KOMPAS.com - Budaya menyusui ternyata bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga kearifan lokal yang telah mengakar kuat di masyarakat Indonesia.
Dalam seminar bertajuk "Prioritaskan Menyusui: Ciptakan Sistem Pendukung yang Berkelanjutan", Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menyoroti pentingnya pendekatan budaya dalam mendorong keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika Andi Makmur Maka mengatakan, menyusui bukan hanya kewajiban biologis, melainkan bagian dari budaya bangsa yang berhubungan dengan aspek sosial hingga agama.
"Sejak dulu, orangtua kita sudah menjadikan pemberian air susu ibu (ASI) sebagai budaya positif yang patut diteruskan," ujarnya dalam siaran pers, Jumat (29/8/2025).
Andi mengatakan itu dalam seminar yang digelar di Sasana Budaya Gedung Philanthropy, Jakarta Selatan, Selasa (26/8/2025).
Baca juga: Hiburan dan Kebaikan Berdampingan: Konser JUMBO dan Kisah di Balik Musala Dompet Dhuafa
Dukungan nyata Dompet Dhuafa untuk para ibu menyusui terlihat sejak 2010, khususnya melalui tiga program utama, yakni Kawasan Sehat, Program Ibu dan Anak, serta Bidan untuk Negeri.
Bendahara dan Operasional Yayasan Dompet Dhuafa Republika Tri Estriani, mengungkapkan, program-program pendampingan Dompet Dhuafa berhasil meningkatkan angka capaian ASI eksklusif dari 70 persen pada 2023 menjadi 83 persen pada 2024 dan 2025.
“Dampak nyata terlihat dari capaian pemberian ASI eksklusif. Capaian ini patut diapresiasi,” ungkapnya.
Meskipun capaian itu meningkat, tantangan tetap ada. Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Lovely Daisy menyebutkan, kurangnya pengetahuan dan pengaruh mitos menjadi hambatan utama.
“Peran keluarga, khususnya suami, sangat penting dalam mendukung ibu menyusui. Lingkungan kerja juga harus memberi ruang nyaman agar ibu bisa terus memproduksi ASI,” jelasnya.
Baca juga: Dorong Pengembangan Karakter Anak, Dompet Dhuafa Gelar Jambore Sekolah Budi Pekerti
Acara inti gelar wicara menghadirkan narasumber ahli Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika Yudi Latif, dokter spesialis anak dan konsultan laktasi sekaligus relawan LKC Asti Praborini, dan Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Nia Umar.
Dalam diskusi panel itu, para narasumber sepakat bahwa ASI adalah fondasi masa depan anak.
Yudi Latif menilai, pola pemberian ASI yang benar mampu membentuk perilaku kesehatan jangka panjang.
Sementara itu, Nia Umar mengajak orangtua memprioritaskan menyusui untuk membangun sistem berkelanjutan.
“Dengan begitu, pondasi kesehatan sudah terbentuk sejak awal kehidupan," kata Nia.
Asti Praborini menambahkan, menyusui bukan hanya soal gizi, tetapi juga ikatan kasih sayang.
“Memberikan ASI langsung memunculkan hormon cinta dari ibu kepada anak. Selain itu, ASI mendorong tumbuh kembang anak secara sehat dan kuat,” ujarnya.
Baca juga: Dompet Dhuafa Kenalkan Potensi Ekonomi Kaki Gunung Lawu lewat Fun Run
Dalam gelar wicara itu, pendekatan kearifan lokal juga diangkat melalui tradisi masyarakat Baduy di Banten.
Nilai-nilai budaya mereka yang erat dengan kebiasaan menyusui diharapkan dapat menjadi inspirasi.
Di luar seminar itu, LKC Dompet Dhuafa juga menjalankan gerakan Budaya Mengasihi, yakni promosi laktasi berbasis kearifan lokal di berbagai daerah.
Pada Agustus 2025, LKC Dompet Dhuafa melatih 240 kader di seluruh Indonesia untuk mengedukasi lebih dari 2.400 ibu.
Langkah itu memperkuat komitmen Dompet Dhuafa dalam menggerakkan pesan kesehatan berbasis budaya.
Kehadiran para kader juga menjadi bagian penting dari rangkaian Pekan Menyusui LKC Dompet Dhuafa 2025.
Baca juga: Pemerataan Gizi, Dompet Dhuafa Kirim 35 Ribu Domba dan Kambing ke Daerah Minim Pekurban
Tak hanya itu, kegiatan itu juga mendukung kebijakan pemerintah, seperti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif dan UU Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak yang menegaskan hak ibu dan anak dalam proses menyusui.