KOMPAS.com – Puluhan warga, mayoritas ibu rumah tangga dan petani, mengikuti pelatihan pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk kompos di balai pertemuan Kelurahan Pengkol, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Acara ini rutin digelar Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa sejak Juli 2025 lalu.
Pelatihan itu sendiri berlangsung interaktif. Selain menyampaikan teori, fasilitator juga mengajak warga mempraktikkan pembuatan kompos dengan peralatan sederhana, seperti pisau, ember, tong, dan wadah khusus.
Fasilitator dari DMC Dompet Dhuafa Adi Sumarno menjelaskan bahwa pelatihan tersebut dibuat sederhana agar mudah dipahami masyarakat.
"Prinsipnya, sampah rumah tangga yang sehari-hari ada di dapur bisa diubah jadi sesuatu yang berguna untuk kebun dan lahan pertanian mereka,” ujar Adi dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (31/8/2025).
Sesi praktik menjadi momen paling menarik. Warga tampak bersemangat mencampur sisa sayuran, daun kering, serta makanan dengan tanah dan aktivator mikroba.
Gunungkidul sendiri dikenal sebagai daerah tandus di Yogyakarta. Persoalan klasik masih menghantui. Salah satunya adalah tumpukan sampah organik rumah tangga.
Baca juga: Seminar LKC Dompet Dhuafa: Budaya dan Dukungan Keluarga Jadi Kunci Sukses Menyusui di Indonesia
Sampah yang biasanya hanya dibakar atau dibiarkan menumpuk itu kerap menimbulkan bau tak sedap hingga mencemari lingkungan. Padahal, bila dikelola dengan baik, sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomi.
Di sisi lain, sebagai masyarakat agraris, warga Pengkol bergantung pada pupuk untuk menggarap lahan. Namun, keterbatasan pupuk subsidi dari pemerintah membuat banyak petani kesulitan.
“Karena mayoritas warga di sini petani, pelatihan ini sangat bermanfaat. Kami bisa sedikit demi sedikit beralih menggunakan pupuk organik dari sampah sendiri. Selain lebih ramah lingkungan, ini juga mengurangi ketergantungan pada pupuk subsidi yang mulai langka,” kata salah satu peserta, Yuli.
Bagi Yuli, pupuk kompos menjadi solusi ganda, yakni mengurangi timbunan sampah sekaligus menyuburkan lahan pertanian.
Baca juga: Hiburan dan Kebaikan Berdampingan: Konser JUMBO dan Kisah di Balik Musala Dompet Dhuafa
Hal senada disampaikan peserta lain, Rustuti. Menurutnya, warga biasanya hanya memanfaatkan sampah organik sebagai pakan ternak.
“Lewat pelatihan ini, kami jadi tahu sampah bisa diolah jadi pupuk kompos yang lebih bermanfaat. Semoga banyak warga ikut mencoba sehingga sampah di rumah tidak menumpuk,” ujarnya.
Pelatihan tersebut diharapkan menjadi titik awal perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah. Yuli juga menekankan pentingnya keberlanjutan praktik ini di tingkat rumah tangga.
“Kalau kebiasaan ini dilakukan bersama-sama, selain membantu pertanian juga bisa menjaga lingkungan sekitar,” ucapnya.
Baca juga: Dorong Pengembangan Karakter Anak, Dompet Dhuafa Gelar Jambore Sekolah Budi Pekerti
Melalui kegiatan itu, DMC Dompet Dhuafa ingin menegaskan bahwa sampah bukanlah akhir dari segalanya. Di tangan masyarakat yang terlatih, sampah organik bisa menjadi awal kehidupan baru: tanah yang subur, panen yang melimpah, dan lingkungan lebih sehat.
Program di Gunungkidul ini juga menjadi bagian dari komitmen Dompet Dhuafa menghadirkan program kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat berkelanjutan di berbagai daerah Indonesia.
Dengan pendekatan sederhana, warga tidak hanya diajak peduli lingkungan, tetapi juga didorong mandiri memenuhi kebutuhan pertanian.